Salah seorang ahli ibada di
Popinsi Jurjan mempunyai isteri yang sangat cantik yang sudah berapa lama hidup
bersamanya. Keduanya telah hidup bersama sekian lama namun belum juga
dikaruniai anak, kemudian hamillah istrinya yang menrupakan hasil pernikahannya
setelah sempat berputus asa.
Si istri sangat gembira, juga si
suami yang ahli ibadah. Ia memuji kepada Allah Ta’ala dan meminta-Nya agar anak
yang dikandungnya berkelamin laki-laki. Ia lalu berkata kepada istrinya; “Bergembiralah,
sesungguhnya saya menginginkan agar anak laki-laki kita banyak memberi manfaat
dan menjadi pandangan yang menyenangkan, saya akan memilihkan baginya nama
paling baik dan akan saya panggilkan untuknya seluruh guru yang baik. Kata
istrinya; “Wahai suamiku, apa yang mendorongmu berbicara sesuatu yang engkau
belum mengerti apakah akan terjadi atau tidak, sesungguhnya orang yang berbuat
seperti itu akan mendapatkan musibah seperti yang menimpa seorang ahli ibadah
yang ia menumpahkan minyak dan madu ke atas kepalanya sendiri. Bagaimana itu
bisa terjadi wahai isteriku?
Kata isteri; “Diceritakan
bahwasannya ada seorang ahli ibadah rejekinya setiap hari diberi dari rumah
seorang pedagang, yaitu berupa minyak samin dan madu. Daripadanyalah ia memakan
santapannya dan keperluannya, kemudian sisanya diletakan di atas sebuah
tempayan dan ia gantungkan di sebuah pasak di pojok rumah hingga penuh. Maka di
saat suatu hari sang ahli ibadah telentang di atas peunggungnya sementara
tongkat ditangannya dan tempayan tergantung di atas kepalanya. Ia berpikir
bagaimana cara mengembangkan minyak samin dan madunya.
Ia berkata; akan kujual isi
tempayan dengan harga satu dinar, lalu akan kubeli 10 ekor kambing hingga
mereka bisa bersusu dan melahirkan anak setiap lima bulan sekali, sehingga
tidak memakan waktu lama sampai telah menjadi kambing yang banyak jika ia bisa
melahirkan anak-anaknya. Setelah beberapa tahun ia memeriksa kambingnya seperti
yang diperhitungkannya, dan didapatkannya lebih dari 400 kambing perah. Lalu ia
berujar; kambing ini akan kujual dan kubelikan 100 ekor sapi dengan perhitungan
setiap penjualan empat ekor kambing mendapatkan satu sapi, dan saya akan
membeli tanah dan benih biji-bijian, dan saya akan menyewa buruh, aku akan
bercocok tanam dengan sapi-sapi itu, dan yang betina akan kuperah susunya
sehingga tak perlu sampai beberapa tahun hingga aku bisa memperoleh dari
tanaman hasil yang banyak, lantas akan kubangun rumah yang mewah dan akan
kubeli budak-budak perempuan, bdak-budak laki-laki, dan aku akan mengawini
wanita-wanita cantik jelita hingga mereka hamil dan melahirkan anak yang mulus
dancerdas. Lalu aku akan memilihkan nama yang paling bagus untuknya, dan
sekiranya ia beranjak remaja, akan kudidik sebaik-baiknya dengan pengawasan
yang disiplin, dan jika anakku tak mau menerima pendidikanku, maka akan ku
pukul dengan tongkat ini, sambil ia menunjuk dengan tongkatnya ke arah
tempayan. Sehingga ia memecahkannya, dan semua isinya tumpa ke arah wajahnya.
Kata isterinya;
Hanyasanya aku membuat perumpamaann
ini agar engkau tidak terburu-buru berangan-angan dengan sesuatu yang tak
pantas diceritakan, dan engkau juga tidak tahu apakah akan terjadi atau tidak.
Maka laki-laki ahli ibadah itupun menyadari dengan apa yang telah dikisahkan
oleh isterinya.
Kemudian si wanita itu melahirkan
seorang laki-laki yang tampan dan ayahnya sangat gembira. Setelah sekian hari,
tibalah si isteri untuk bersuci. Danberkatalah si isteri kepada laki-laki ahli
ibadah itu; “Duduklah engkau menemani anak laki-lakimu, karena aku akan pergi
ke kamar mandi untuk mandi dan nati kembali. Istrerinya meninggalkan dia dan
anak laki-lakinya untuk mandi.
Tidak lama kemudian, datanglah
seorang utusan raja memanggilnya sementara tak ia dapatkan seseorang yang
menjaga bayinya selain tikus jinak yang telah dipeliharanya semenjak kecil, dan
ia menurutnya bisa menjaga bayi dan menutup pintu rumahnya dan pergilah ia
bersama utusan raja.
Tiba-tiba kemudian keluarlah
seekor ular hitam dari balik beberapa batu di rumahnya, lalu si ular mendekati
bayinya. Tikus lalau memukulnya, kemudian si ular melompat, dan si tikus
kemudian bisa membunuhnya dan memotong-motong tubuhnya sehingga mulutnya penuh
dengan darah ular. Ahli ibadah datang dan membuka pintu rumahnya. Tikus menjumpai
ahli ibadah seolah-olah ingin memberi berita gembira kepadanya karena telah
berhasil membunuh ular, maka tatkala si ahli ibadah melihat mulutnya berlumuran
darah sembari ketakutan, si ahli ibadah menyangka bahwasanya ia telah mencekik
anaknya dan ia tidak berhati-hati memeriksa persoalannya sehingga tahu persis
sebenarnya dan bertindak sewajarnya apa yang harus dilakukan. Ia terburu buru
berburuk sangka kepada si tikus dan langsung memukulnya dengan tongkat yang
berada ditangannya tepat di pusat kepalanya hingga si tikus tewas.
Ahli ibadah lalu masuk ke dalam
rumahnya, dan melihat bayinya dalam keadaan sehat wal afiat sementara di
sampingnya ada ular yang telah terpotong-potong. Maka tatkala ia mengetahui
kisah sebenarnya dan sadar atas kelakuan jahatnya yang suka terburu-buru, ia
menapuk kepalanya seraya berkata; Wahai sekiranya aku tak diberi bayi ini dan
tidak melakukan pengkhianatan terhadap si tikus. Dan masuklah isterinya dan didapatkannya
suaminya sedang mengomel seperti itu, lalu isteri berujar; Mengapa engkau? Ahli
ibadahpun lalu menceritakan kelakuan baik tikusnya dan pembalasannya yang jahat
terhadapnya. Maka isterinya lalu mengatakan; Inilah akibat ketergesa-gesaan.
Sumber : Kalilah & Dimnah
Komentar
Posting Komentar