Langsung ke konten utama

Apa Yang Kautanam




Seorang petani telah bekerja keras membanting tulang selama hidupnya sekadar untuk mendapatkan sesuap nasi bagi keluarganya dari sepetak kecil tanah miliknya. Kerja keras dan kecermatannya pada waktunya membuahkan hasil. Pada tahun-tahun ketika hasil panen melimpah, sedapat mungkin dia sisihkan sedikit uangm, dan, dengan ketekunannya menabung, pelan tapi pasti dia berhasil memperluas ladangnya.

Adat di daerah tersebut menetapkan bahwa putra tertua mewarisi tanahnya, tetapi petani ini bukanlah seseorang yang mau begitu saja didikte oleh tradisi. Keadilan dan rasa kesetaraan lebih mendominasi prinsipnya ketimbang tradisi. Oleh karenanya, dia mewariskan harta peninggalannya menjadi petak-petak yang sama besar untuk ketiga putranya.

Ketika pada akhirnya petani itu meninggal, putra tertua menjadi murka karena merasa hak-hak yang telah dia peroleh sejak lahir dicabut begitu saja. Tak pelak lagi, dialah ahli waris yang tepat. Semua orang tahu. Tanah itu seharusnya menjadi miliknya.

Ketiga bersaudara tersebut menerima petak tanah yang sama besar, tandus, gersang, dan keras, sama dengan tanah milik ayah merak dahulu. Perpecahan melanda keluarga tersebut. Putra sulung tidakmau berbicara dengan adik-adiknya. Kedua adiknya merasa hubungan mereka dengan kakak tertua mereka begitu tegang hingga mereka berdua menghindarinya. Sayang, keinginan sang ayah untuk melihat ketiga anaknya bahagia tidak berhasil, dan ketika tiba musim tanam, setiap anak berkosentrasi pada petak tanah mereka sendiri tanpa mau menengok petak saudaranya.

Ketika si bungsu sedang menabur benih di petak tanahnya, lewatlah seorang pengembara tua. “Anda tampak kehausan dan kelaparan,” kata pemuda itu, kemudian dia pergi ke sumur dan mengambilkan air untuk pengembara asing tersebut. Dia buka kotak makan siangnya dan dia berikan sepotong sandwich kepada pengembara itu.

Sebelum melanjutkan perjalanannya, orang asing tersebut mengucapkan terima kasih dan bertanya, “Apa yang sedang kau tanam?”
“Gandum, Tuan,” kata pemuda itu dengan sopan.
“Maka,” kata orang asing tersebut,” gandumlah yang akan engkau panen.”

Belum lama melanjutkan perjalanannya, pengembara tersebut berjumpa dengan putra kedua yang juga sedang menyebarkan benih di ladangnya. “Anda kelihatan lelah dancapai.” Kata pemuda tersebut. “Singgalah di rumah saya malam ini. Anda perlu beristirahat.”

Pemuda tersebut memperlakukan tamunya dengan penuh perhatian di gubuk sederhana yang dia bangun di atas petak tanahnya. Pengembara itu di jamu dengan makanan hangat dan dipersilahkan tidur di tempat tidurnya. Pada pagi harinya, orang asing tersebut mengucapkan terima kasih kepada pemuda tersebut dan bertanya, “Apa yang kau tanam?”

“Gandum, Tuan,” jawab pemuda tersebut.
“Maka,” kata orang asing tersebut, “gandumlah yang akan engkau panen.”

Orang asing tersebut menaiki kudanya dan berlalu. Ketika melewati ladang putra tertua, tidak ada sapa yang menyambutnya. Pemuda ini sedang sibuk mencangkuli tanah sambil marah-marah hingga dia tidak sadar ada orang asing yang lewat. Meskipun begitu, pengembara itu bertanya kepadanya dengan sopan. “Apa yang sedang kau tanam, anak muda?”
“Tidakkah kau lihat, orang tua bodoh,” teriak pemuda yang mudah marah dan ketus ini. “Aku sedang menabur batu!”
“Maka,” kata orang asing tersebut dengan pelan dan tenang, “batulah yang akan kaupanen.”

Musim berganti, orang asing itu sudah dilupakan, dan musim panen segera menjelang. Dua orang pemuda, putra kedua dan si bungsu, senang sekali karena hasil panen mereka berlimpah. Kerja keras mereka membuahkan hasil, dan mereka berhasil mendapatkan keuntungan bersih meskipun tidak banyak. Atas hasil yang mereka peroleh ini, mereka berterima kasih kepada ayah mereka.

Putra sulung tidak begitu gembira. Panennya gagal. Dia berdiri sambil memandangi tanah tandus yang penuh denganbebatuan. Pada mulanya kemarahannya memuncak hingga ubun-ubun. Dia mengutuk ayah dan adik-adiknya. Dia mengutuk orang asing yang telah meramalkan bahwa dia hanya akan memanen batu.

Akan tetapi, kemarahan, sebagaimana musim, bisa berubah. Kedua adiknya menghiburnya atas panennya yang gagal dan menawarkan untuk membagi hasil panen mereka. Mereka berjanji tidak akan membiarkan sang kakak jatuh miskin. Sirnalah semua pikiran buruk dan penuh amarah dari putra sulung terhadap kedua adinya. Dia tersentuh oleh kemurahhatian dan perhatian mereka.

“Maafkan aku,” katanya kepada mereka. Mereka menjawab tidak ada yang perlu dimaafkan. Lagi pula, bukankah mereka bersaudara? “Kebaikan hati kalian telah memberiku pelajaran,” katanya. “Kecemburuan dan kemarahanku tidak beralasan. Aku dan kalian sama-sama terluka. Ternyata, tidak benar jika aku terlalu memikirkan masalah harta benda. Tak ada yang lebih penting dari rasa cinta dan kebaikan hati orang-orang yang peduli.

“Setiap kali melihat bebatuan,” lanjutnya, “aku akan selalu ingat pelajaran yang kudapat: apa yang kau tanam, itulah yang akan kaupanen.”


Sumber: 101 Kisah yang Memberdayakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih makanan

Karena makanan yang kita makan akan menjadi tubuh kita. Sudah selayaknya kita hanya memilih makanan yang sehat bagi tubuh. Kalau kita menyadari bahwa hidup hanya sekali maka makanan yg kita konsumsi harus benar benar menunjang hidup yang sekali ini. Jangan menumpuk makanan sampah dalam tubuh ini. Makanan sampah yang kita makan sungguh tidak berguna dan akan menjadi sumber pentakit. Karena tubuh menolak jenis makanan itu sehingga tidak bisa bersatu dengan tubuh. Selanjutnya makanan itu akan menjadi beban bagi tubuh. Kemana mana tubuh akan membawanya. Sehingga pergerakan kita menjadi lambat karena kegemukan. Memikirkan kembali makanan yang kita amakan akan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Mumpung hidup hanya sekali ayo makan makanan yang sehat saja. Makan bukan untuk menumpuk makanan dalam perut atau tubuh. Makanan diperlukan karena energi dan kandungannya untuk kehidupan organisme yg ada dalam tubuh.

Mengangkat anak

Sebelum aku bersatu dengan matahari, izinkan aku untuk mengangkat anak dari kalangan orang2 miskin minimal 10 anak. Harapanku sih aku bisa mengangkat anak sampai 100 bahkan mungkin lebih. Betapa bahagianya bisa mengangkat anak dan membagikan kebahagiaan yang aku miliki kepada mereka. Aku adalah mathari yang akan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi.

Senyum membangkitkan spirit Anda

Thomas A. Edison berkata, " Senyum dengan manusia itu bagaikan matahari dengan sinar. Sesungguhnya senyuman itu walaupun ringan dan sepele, tetapi bila ditebarkan sepanjang hayat niscaya akan menghasilkan kesan baik yang tak pernah terbayangkan dahsyatnya." "Senyuman itu cepat meresap masuk ke dalam diri Anda dan menjadikan Anda merasa senang dan dapat membangkitkan spirit."