Langsung ke konten utama

Ketika Tindakan Lebih Berarti Ketimbang Kata-Kata






St. Francis dari Assisi mengajak seorang pendeta muda untuk memberikan khutbah dengannya di desa tetangga. Pendeta muda tersebut senang sekali di undang oleh senior yang sangat dihormati. Dia pasti akan mendapatkan pelajaran dengan melihat dan memrhatikan khutbahnya yang agung.

Mereka berjalan beriringan menuruni bukit, melewati jalan kecil yang diapit ladang pertanian. Di sepanjang jalan, St Francis tersenyum dan menyapa para pemilik ladang. Dia berhenti untuk menepuk-nepuk satu atau dua binatang, berhenti di bawah pohon untuk mendengarkan nyanyian burung-burung pada pagi hari, dan tampak menikmati keindahan alami di luar ruangan gelap biara. Namun pendeta muda tersebut ingin segera tiba di desa dan mendengarkan St. Francis berkhutbah.

Ketika akhirnya sampai di desa, mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu. Bangunan-bangunan yang ada menghalangi sinar matahri. Jalan tersebut suram dan penuh kotoran. Banyak binatang yang mengais-ngais makanan. Orang-orang sibuk menjajakan dagangan mereka. St. Francis berjalan keluar masuk gang-gang kecil sambil menyunggingkan senyum dan menyapa orang-orang dengan ramah. Pendeta muda tersebut mulai bertanya-tanya dalam hati kapan St. Francis akan menyampaikan khutbahnya.

Sesudah beberapa saat, St. Francis berbelok, kembali melewati jalan yang sudah mereka lalui tadi, tiba di luar kota, dan kembali mendaki jalan menuju biara. Pendeta muda mencoba menahan diri, tetapi ketika mereka sudah sampai di jalan setapak menuju biara, dia tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya. “Bapa, “tanyanya, “saya kira kita tadi mendatangi desa itu untuk berkhutbah.”

“Sudah, kan?” jawab St. Francis dengan ramah. “Ketika berjalan-jalan tadi, kita berkhutbah. Kadang-kadang, kita tidak membutuhkan kata-kata. Kehadiran kita sendiri mengingatkan orang-orang tentang apa yang kita wakili. Melalu tindakan, kita telah memberikan khutbah pagi kita.”

Sambil menatap pendeta muda itu, St. Francis menyimpulkan, “Tak ada gunanya pergi untuk berkhutbah kecuali jika kita mengkhutbahkan apa yang kita lakukan.”


Sumber : 101 Kisah yang Memberdayakan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih makanan

Karena makanan yang kita makan akan menjadi tubuh kita. Sudah selayaknya kita hanya memilih makanan yang sehat bagi tubuh. Kalau kita menyadari bahwa hidup hanya sekali maka makanan yg kita konsumsi harus benar benar menunjang hidup yang sekali ini. Jangan menumpuk makanan sampah dalam tubuh ini. Makanan sampah yang kita makan sungguh tidak berguna dan akan menjadi sumber pentakit. Karena tubuh menolak jenis makanan itu sehingga tidak bisa bersatu dengan tubuh. Selanjutnya makanan itu akan menjadi beban bagi tubuh. Kemana mana tubuh akan membawanya. Sehingga pergerakan kita menjadi lambat karena kegemukan. Memikirkan kembali makanan yang kita amakan akan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Mumpung hidup hanya sekali ayo makan makanan yang sehat saja. Makan bukan untuk menumpuk makanan dalam perut atau tubuh. Makanan diperlukan karena energi dan kandungannya untuk kehidupan organisme yg ada dalam tubuh.

Mengangkat anak

Sebelum aku bersatu dengan matahari, izinkan aku untuk mengangkat anak dari kalangan orang2 miskin minimal 10 anak. Harapanku sih aku bisa mengangkat anak sampai 100 bahkan mungkin lebih. Betapa bahagianya bisa mengangkat anak dan membagikan kebahagiaan yang aku miliki kepada mereka. Aku adalah mathari yang akan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi.

Senyum membangkitkan spirit Anda

Thomas A. Edison berkata, " Senyum dengan manusia itu bagaikan matahari dengan sinar. Sesungguhnya senyuman itu walaupun ringan dan sepele, tetapi bila ditebarkan sepanjang hayat niscaya akan menghasilkan kesan baik yang tak pernah terbayangkan dahsyatnya." "Senyuman itu cepat meresap masuk ke dalam diri Anda dan menjadikan Anda merasa senang dan dapat membangkitkan spirit."