St. Francis dari Assisi mengajak
seorang pendeta muda untuk memberikan khutbah dengannya di desa tetangga. Pendeta
muda tersebut senang sekali di undang oleh senior yang sangat dihormati. Dia pasti
akan mendapatkan pelajaran dengan melihat dan memrhatikan khutbahnya yang
agung.
Mereka berjalan beriringan
menuruni bukit, melewati jalan kecil yang diapit ladang pertanian. Di sepanjang
jalan, St Francis tersenyum dan menyapa para pemilik ladang. Dia berhenti untuk
menepuk-nepuk satu atau dua binatang, berhenti di bawah pohon untuk
mendengarkan nyanyian burung-burung pada pagi hari, dan tampak menikmati
keindahan alami di luar ruangan gelap biara. Namun pendeta muda tersebut ingin
segera tiba di desa dan mendengarkan St. Francis berkhutbah.
Ketika akhirnya sampai di desa,
mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu. Bangunan-bangunan yang ada
menghalangi sinar matahri. Jalan tersebut suram dan penuh kotoran. Banyak binatang
yang mengais-ngais makanan. Orang-orang sibuk menjajakan dagangan mereka. St.
Francis berjalan keluar masuk gang-gang kecil sambil menyunggingkan senyum dan
menyapa orang-orang dengan ramah. Pendeta muda tersebut mulai bertanya-tanya
dalam hati kapan St. Francis akan menyampaikan khutbahnya.
Sesudah beberapa saat, St.
Francis berbelok, kembali melewati jalan yang sudah mereka lalui tadi, tiba di
luar kota, dan kembali mendaki jalan menuju biara. Pendeta muda mencoba menahan
diri, tetapi ketika mereka sudah sampai di jalan setapak menuju biara, dia
tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya. “Bapa, “tanyanya, “saya kira kita
tadi mendatangi desa itu untuk berkhutbah.”
“Sudah, kan?” jawab St. Francis
dengan ramah. “Ketika berjalan-jalan tadi, kita berkhutbah. Kadang-kadang, kita
tidak membutuhkan kata-kata. Kehadiran kita sendiri mengingatkan orang-orang
tentang apa yang kita wakili. Melalu tindakan, kita telah memberikan khutbah
pagi kita.”
Sambil menatap pendeta muda itu,
St. Francis menyimpulkan, “Tak ada gunanya pergi untuk berkhutbah kecuali jika
kita mengkhutbahkan apa yang kita lakukan.”
Sumber : 101 Kisah yang
Memberdayakan
Komentar
Posting Komentar