Nancy H. Blakey
Penyair William Stafford pernah
berkata bahwa hidup kita lebih banyak mengalami jalan memutar dan godaan dalam
hidup ini, bukan jalan sempit yang lansung menuju sasaran. Aku suka gambaran
ini. Tetapi, aku memang termasuk orang yang sangat mudah tergoda.
Oh, aku juga punya sasaran
seperti orang lain, dan aku juga sering berhasil. Tetapi, sejumlah penyimpangan
gila-gilaan dalam kehidupanku sehari-harilah yang membimbingku menuju kawasan
yang penuh madu.
Seperti misalnya perjalanan yang
menyenangkan. Untuk keluargaku, ini berarti beberapa kali mengambil jalan
memutar yang lama sambil bermalas-malasan – jalan santai menyusuri jalan di
pedalaman yang akhirnya akan mengarah ke tempat yang dituju. Batasnya tidak
kenal waktu, dan dibalik setiap belokan terdapat berbagai kemungkinan. Kami berhenti
di tempat penjualan di peternakan, memeriksa hewan yang terlindas sampai mati
di jalan, dan membeli buah persik yang paling berair di dunia di warung buah
setempat. Dan, karena tidak terburu-buru, kami pun asyik mengobrol.
Tidak selalu seperti ini bagi
kami. Kami menemukan sisi indah perjalanan ini secara kebetulan – atau karena
kami mengambil jalan memutar.
Sudah bertahun-tahun kami biasanya
melakukan perjalanan sepanjang delapan raus kilometer dari rumah kami di seatle
ke rumah orangtua kami di Boise dalam waktu sembilan jam. Kami menempuh
perjalanan melalu jalan yang sudah biasa dilalui orang: rute tercepat,
terpendek, termudah. Terutama jika suamiku, Greg, tidak bisa ikut dan aku hanya
ditemani empat orang anak yang cerewet dan lasak, yang tidak suka berada di
dalam tempat tertutup dan selalu punya pendapat tentang segala sesuatu.
Perjalanan terasa penuh risiko,
sehingga biasanya aku mengendarai mobil dengan cepat, hanya berhenti jika
terpaksa. Kukendalikan anak-anak dengan mata memperhatikan jalan, sementara
tanganku melambai-lambai ke arah mereka. Kami setia mengambil jalan raya. Kami menghitung
jan dan kilometer, dan tiba dalam keadaan lelah dan uring-uringan.
Tetapi kemudian, lahirlah Banner.
Banner adalah domba kami. Dia
ditolak induknya beberapa hari sebelum perjalanan yang sudah direncanakan ke
Bose. Aku punya dua pilihan: meninggalkan anak domba itu dengan suamiku, yang
harus membawanya ke kantor, memberinya makan dua jam sekali, dan tidak lupa
untuk mengganti popoknya. Atau membawa Banner bersamaku ke Boise. Greg membuat
keputusan untukku.
Inilah sebabnya mengapa aku
berada di jalan dengan membawa empat orang anak, seekor anak domba, lima
sepeda, dan optimisme abadiku untuk berhasil melalui cobaan ini. Kami terpaksa
mengambil jalan di pedalaman. Kami harus berhenti setiap jam dan membiarkan
Banner meluruskan kaki panjangnya yang tertekuk dan goyah. Anak-anak mengejarnya
dan juga saling mengejar. Mereka kembali ke mobil dengannapas terengah-engah
dan penuh semangat, berbau segar karena udara dingin.
Kami mulai menilai diri kami
sebgai orang aneh dari susdut pandang riang. Di saat dunia berjalan cepat, kami
justru santai. Alih-alih bergegas menuju Boise dalam sekali jalan, kami malah
menginap di sebuah motel di Baker, Oregon. Keesokan paginya kami disuguhi
sarapan roti kayu yang manis yang paling lembut dan harum yang pernah kami
makan.
Kami menjelajahi beberapa jalan
kecil, memenuhi keinginan mendadak seperti menangkap capung di semak rumput
setinggi pinggang. Bahkan kami juga menikmatinya saat melihat ke luar jendela
mobil ke gantungan pakaian yang berkibar-kibar di tali jemuran, atau anak-anak
babi yang berjalan gontai mengikuti induknya, atau ikan trout yang melompat di
permukaan air sungai kecil. Perjalanan itu lebih asyik jika dibandingkan dengan
perjalanan paling asyik di jalan raya. Inilah yang namanya hidup. Cakrawala baru.
Akhirnya kami tiba juga di rumah
orang tuaku dalam keadaan segar dan penuh semangat untuk bercerita. Dibutuhkan waktu
ekstra selama lima jam dari biasanya, tetapi apalah artinya, kami sudah biasa
menghabiskan waktu lima jam untuk memulihkan diri dari rasa lelah.
Aku menjadi berani – dan agak
mabuk – akibat petualangan ini. Dalam perjalanan pulang, aku berbelok melalu
ijalan melingkar di Idaho untuk mengunjungi nenekku. Kami beristirahat di mata
air panas yang selama bertahun-tahun ini kulewati begitu saja. Dan aku menjadi
kreatif dengan sikapku dalam mendisiplinkan anak-anak. Di jalan sepi di bagian
timur Washington, semuanya mulai bersepeda. Kuhentikan mobil, menyuruh
anak-anak turun, dan mengatakan agar menemuiku di depan sana. Kukendarai mobil
sejauh satu setengah kilometer, memarkirnya di tepi jalan, dan membaca buku
dalam keheningan.
Perjalanan dengan Banner itu
telah membuka mata kami untuk melihat dunia yang tersedia bagi setiap orang
yang bersedia malas-malasan dan bersantai. Ternyata kami bisa saja berhenti di
sungai hanya karena jari kaki kami terasa panas sementara air sungai itu
dingin. Dunia bisa saja menunggu di saat kami berhenti untuk membaca tonggak
bersejarah di sepanjang jalan, sambil membayangkan sejenak betapa berani dan
gigihnya orang bertahan hidup satu setengah abad yang lalu.
Ada perjalanan yang terpaksa
harus cepat dan langsung. Tetapi, ternyata seekor domba hitam membuatku sadar
bahwa jalan memutar bisa menyibakkan bagian terbaik dari sebuah perjalanan –
dan bagian terbaik dari kita.
Sumber : Reader’s Digest
Komentar
Posting Komentar