“Apa pun yang kauhabiskan akan hilang.
Apa pun yang kau simpan, orang lain akan dapatkan.
Apa pun yang kau berikan, itulah milikmu selamanya.”
DR. Will Rose
Saat itu hampir pukul dua dini
hari dan Carl belum juga bisa memejamkan mata. Dia terbaring di atas tempat tidurnya
sembari memegang di tangannya selembar uang kertas senilai seratus dollar. Itulah
satu-satunya uang yang tersisa. Dia telah diberhentikan dari tempatnya bekerja
dan tidak punya penghasilan lain untuk menutupi utang-utangnya atau membayar
uang sewa atau bahkan untuk membeli makanan. Karena dia masih terjaga, Carl
memutuskan membuka surat-surat yang seminggu belum dia baca. Dia membuka surat
pertama dan itu dari bank yang memintanya agar mengembalikan pinjamannya. Dia membuka
surat kedua dan itu dari perusahaan kartu kredit yang membatalkan kartu
kreditnya karena dia sudah tidak membayar angsurannya selama tiga bulan. Surat yang
ketiga dari pemilik rumah yang mengatakan bahwa jika dia tidak membayar uang
sewa yang sudah terlambat ini maka pemilik rumah akan mengambil langkah hukum
untuk menuntutnya.
Carl berheti di tiik itu dan
tidak ingin melanjutkan membaca surat-suratnya. Dia duduk di lantai menatap
langit-langit, dengan air mata berlinang di matanya dia berkata, “Ya Tuhan,
tolong bantu aku! Aku sendirian, tak berdaya, dan melarat. Aku tak punya
pekerjaan dan aku akan segera terdampar di jalanan. Tolong bantulah aku, Tuhan.”
Dia tersedu hingga jatuh tertidur.
Carl terbangun sekitar pukul
sepuluh pagi. Ia berpakaian dan keluar untuk mencari pekerjaan. Dia mengunjungi
dua puluh toko dan perusahaan yang berbeda tetapi semua usahanya sia-sia ,
semuanya menolak dia. Maka Carl memutuskan untuk membeli sndwich dan kemudian
pulang.
Ditengah perjalanan menuju
restoran, di jalan yang padat dan sibuk, dia memperhatikan seorang perempuan
renta berusia kira-kira delapan puluhan yang sedang berusaha menyeberang jalan.
Saat itu banyak sekali kendaraan yang melaju, mobil-mobil melesat cepat dari
dua arah. Carl berteriak, “Hati-hati, Bu! Awas!” tetapi nenek itu tak bisa
mendengarnya dan terus saja melangkah untuk menyeberang jalan. Carl berlari ke
arahnya, menggamit tanggannya dan membantu perempuan itu menyeberang jalan
dengan selamat.
Dengan air mata berlinang,
perempuan itu berkata, “Kenapa kamu menyelamatkanku? Aku ingin mati!” Carl
bertanya, “Kenapa?” Dia menjawab, “ Seperti yang kamu lihat, aku sudah renta,
kesepian, sakit-sakitan dan miskin. Aku tidak punya tempat untuk tinggal, tak
seorangpun yang memedulikanku, dan aku belum makan apa-apa selama tiga hari.” Tanpa
ragu sedikit pun, Carl menawarkan tangannya untuk menggandeng perempuan itu
menuju restoran dan membelikannya makanan, duduk berbicara dengannya sampai
perempuan itu selesai makan. Kemudian dia memberikan uang kembalian dari uang
seratus dollar satu-satunya yang dia miliki, mendoakan keberhasilan untuk perempuan
itu, berkata kepada dirinya, “Yah, aku yakin Tuhan tidak pernah meninggalkanku.”
Tiba-tiba dia melihat seorang
lelaki menyeberang jalan dan berlalri kearahnya. “Maaf!” dia memanggil, “Saya
melihat apa yang Anda lakukan dan betapa baiknya Anda kepada perempuan itu.
Saya ada perasaan bahwa Anda memberikan semua uang Anda kepadanya, benarkah?”
Carl menjawab, “Saya harus. Menyelamatkan hidupnya jauh lebih penting bagi saya
daripada uang.”
Orang itu berkata, “Saya pemilik
restoran tadi dan saya membutuhkan orang seperti Anda untuk menjaga dan
memperhatikan para pelanggan. Maukah Anda bekerja bersama saya? Carl menjawab, “Tapi
saya tidak mempunyai pengalaman.” Orang itu berkata, “Saya akan mengajarkannya
kepada Anda, dan saya yakin Anda akan belajar dengan cepat dan sangat baik. Bagaimana
menurut Anda?” Carl menerimanya dan mereka berdua kembali ke restoran untuk
memulai pelatihan.
Pada akhir hari orang itu memberi
Carl jadwal kerjanya selama seminggu dan lima ratus dollar sebagai uang muka
sehingga dia bisa melunasi beberapa utangnya dan membayar uang sewa. Carl berterima
kasih kepadanya dan kembali ke rumah dengan perasaan sangat bahagia.
Hal pertama yang dilakukannya
adalah berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang Dia berikan. Keesokan
harinya dia bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke restoran. Dia membersihkan
semua meja, menyapu lantai, membersihkan peralatan makan dan mengatur
meja-meja. Pemilik restoran sangat puas dengan pekerjaannya dan terus mengajarkan
Carl semua rahasia manajemennya sampai Carl menjadi aset yang sangat diperlukan
untuk bisinis restoran ini.
Restoran itu semakin banyak
mendapatkan pelanggan dan memberikan hasil yang lebih baik. Suatu hari, pemilik
restoran bertanya apakah Carl ingin menjadi partner bisnisnya. Carl menjawab, “Saya
akan sangat terhormat, tapi saya tidak punya uang. Orang itu berkata, “Yah
dalam banyak cara, Anda sebenarnya sudah menjadi partner saya, dengan
pengetahuan dan dedikasi Anda pada pekerjaan. Bagaimana jika kita berdua
bersepakat mengenai sejumlah uang yang saya potong dari gaji Anda setiap
minggu, sampai Anda menjadi pemilik setengah dari restoran ini?” Carl setuju.
Waktu terus berlalu dan lima
tahun kemudian sang pemilik restoran, bertanya kepada Carl apakah dia ingin
membeli sahamnya, karena dia sudah berkecimpung selama bertahun-tahun dan tidak
bisa bekerja lagi. Carl setuju.
Sekarang Carl adalah pemilik
restoran Symposium di Montreal dan setiap rabu memberikan kuliah kepada
komunitasnya mengenai rahasia keberhasilannya : kekuatan memberi.
Sumber :Personal Power - Dr. Ibrahim Elfiky
Komentar
Posting Komentar