“Sedikit keharuman selalu menempel
di tangan yang memberikan mawar.”
-
Peribahasa Cina
Hanan adalah gadis kecil berusia
sebelas tahun. Pada suatu hari Jumat dia pergi bersama keluarganya ke mesjid.
Imam masjid saat itu sedang berbicara mengenai kekuatan memberi, mengatakan
bahwa kita semua meminta Tuhan agar memberi kepada kita, tetapi sayangnya ada
orang-orang yang ingin mendapatkan dan memiliki namun tak ingin berbagi dengan
yang lain. Imam menyebutkan bahwa di dalam kitab suci Al-Quran Tuhan berfirman,
“Tuhan mencintai para dermawan.”
Hanan sangat tersentuh dengan
pidato sang imam dan bertanya kepada orang tuanya apakah dia bisa berbicara
langsung kepada imam. Hanan dan orangtuanya kemudian menemui sang imam dan
hanan berkata, “Terima kasih, Pak, karena mau menemui kami. Nama saya Hanan,
saya seorang siswa, sebelas tahun, saya tidak punya pekerjaan. Saya ingin
memberi tetapi bagaimana mungkin saya melakukannya tanpa uang? Dengan senyum
hangat yang menghiasi wajahnya, sang imam menjawab, “Pertama-tama saya ingin
berterima kasih kepadamu karena ketertarikanmu untuk menolong orang lain.
Karena dengan niat baikmu saja kamu sudah memberi.” Ketika Hanan menanyakan apa
maksudnya, imam kembali menjawab, “Kenyataan bahwa kamu berpikir mengenai
memberi berarti bahwa kamu diberkati dan Tuhan akan membuka banyak pintu
untukmu memberi, dan semakin kamu memberi, semakin banyak yang akan kamu
dapatkan.” Hanan berkata, “Wah, ini hebat. Tapi saya ingin lebih daripada
sekedar berpikir. Saya ingin memberi lebih banyak dan membantu lebih
banyak.”Imam itu berkata, “Kamu bisa: berikan waktumu.” Hanan bingung dan
berkata, “Saya tidak mengerti. Bagaimana bisa saya memberikan waktu saya?”
Sang imam berkata, “Berikan
waktumu dengan cara mendengarkan orang-orang yang sedang perlu didengarkan,
dengan mengunjungi orang-orang sakit di rumah sakit dan membantu mereka secara
sukarela. Di sana kamu bisa membantu menyuapi mereka secara sukarela dan
berbicara dengan mereka serat mendengarkan cerita-cerita mereka. Dengan hal-hal
ini kamu bisa menjadi seorang dermawan yang hebat.”
Hanan sangat gembira mendengar
yang dikatakan sang imam. Dia berterima kasih kepadanya dan meminta orangtuanya
untuk bisa mampir mengunjungi salah satu tempat yang disebutkan sang imam tadi.
Orangtuanya setuju dan meraka berhenti di sebuah rumah sakit, kemudian bertanya
apakah mereka bisa mengunjungi para pasien penderita kanker. Hanan sangat
bersemangat mendengar seorang perawat mengatakan, “Ya bisa,” dan menjelaskan
jalan meuju bangsal pasien penyakit kanker.
Hanan hampir tak bisa percaya
betapa banyaknya orang-orang yang sangat menderita karena penyakit kanker. Dia pun
mendekati seorang perempuan tua, menyalaminya dan duduk di sampingnya. Perempuan
itu mulai terisak. Hanan berkata kepadanya, Tolong katakan kenapa nenek
menangis.” Perempuan it menjawab, “Karena Tuhan menjawab doa-doaku. Aku akan
menjalani operasi otak besok pagi. Itu adalah operasi yang sangat berbahaya dan
aku tak punya seorangpun yang memedulikanku. Aku berdoa dan meminta kepada
Tuhan agar mengirim seseorang untuk menghiburku dan bersamaku pada saat-saat
terakhirku. Dan Tuhan mengirim kamu. Tuhan mencintaiku.”
Hanan menangis bersama perempuan
itu dan memberinya pelukan yang erat dan lama. Dia menghabiskan waktu cukup
lama bersama perempuan itu. Hanan merasakan jenis cinta yang berbeda di dalam
hatinya: cinta memberi. Waktu pun berlalu dengan sangat cepat. Hanan menghabiskan
satu jam bersama perempuan tua itu dan kemudian saatnya tiba dia meninggalkan
tempat itu. Hanan mencium perempuan itu kemudian pergi.
Keesokan harinya sepulang dari
sekolah, Hanan dan orangtuanya mengunjungi perempuan itu lagi di rumah sakit
untuk mengetahui kabarnya setelah dioperasi. Tapi tempat tidurnya ternyata
kosong. Hanan pun bertanya kepada kepala perawat mengenai keberadaan perempuan
itu, dan perawat menjawab, “Dia sudah tidak bersama kita lagi, dia meninggal
dunia tadi pagi, tapi dia menyunggingkan senyum amat indah di wajahnya. Dia meninggalkan
sebuah surat untukmu.” Perawat itu lalau memberikan surat itu kepadanya yang
dibuka oleh Hanan dengan berlinang air mata.
“Untuk temanku satu-satunya. Terima
kasih karena telah mencerahkan hidupku, terima kasih karena telah memberikan
waktumu yang berharga. Aku mencintaimu dan akan selalu mengenangmu. Tuhan meberkatimu.”
Hanan tersedu dan berlari ke pelukan ibunya, hatinya pilu. Tetapi ibunya
berkata, “Kamu lihat kan, Sayang, betapa banyak yang kamu berikan? Kamu memberi
lebih banyak daripada yang bisa dibeli oleh uang. Kamu memberikan cinta. Kamu memberikan
waktumu.” Segera saja Hanan menjadi sosok yang terkenal di sejumlah rumah sakit
dan panti jompo. Dia lebih bahagia daripada sebelumnya dan mengerti kekuatan
dari memberikan waktunya.
Sumber : Personal Power – Ibrahim
Elfiky
Komentar
Posting Komentar