Manusia bukanlah makhluk ciptaan lingkungan.
Lingkunganlah yang merupakan ciptaan manusia.
Kita adalah agen-agen bebas, dan manusia
lebih hebat dari segala sesuatu.
Benjamin Disraeli
Seorang pemuda ingin mempelajari
seni bela diri dengan pedang. Ia mendaki sebuah gunung tinggi di Cina untuk
memohon petunjuk dari seorang guru pedang tua yang telah pensiun dan menjalani
tahun-tahun terakhir hidupnya di atas gunung. Setelah perbincangan yang panjang,
sang guru akhirnya setuju untuk mengajar sang pemuda.
Sejak dari awal, sang guru terus
membuat pemuda itu sibuk membelah kayu, berkebun, memasak, mencuci , menimba
air dari sumur, dan melakukan tugas-tugas harian lainnya yang sejenis. Hari-hari
dan minggu-minggu berlalu, dan sang guru masih saja tidak mengatakan apa-apa
mengenai ilmu bermain pedang. Akhirnya, sang murid pun sudah lelah menjadi
pembantu gurunya dan tidak belajar apa-apa tentang seni pedang. Ia mendekati
gurunya dan bertanya mengenai pengajaran seni pedang yang semula menjadi tujuan
kedatangannya. Sang guru mendengarkan dan meminta muridnya kembali ke kegiatan
rutin hariannya.
Sementara sang pemuda sedang
memasak nasi, sang guru tiba-tiba muncul di belakangnya, menyerangnya dengan
pedang kayu, kemudian menghilang dengan cepat tanpa mengatakan sepatah kata
pun. Sang murid sudah sedang menyapu lantai ketika tiba-tiba, persis saat ia
begitu terserap dengan tugasnya dan tidak menduga sama sekali, gurunya muncul
kembali di belakangnya, memukulnya dengan pedang kayu dan secepat kilat
menghilang.
Hal ini berlangsung sepanjang
hari, setiap hari. Tak peduli apa yang sedang dilakukan si pemuda. Ia tak
pernah bisa beristirahat karena gurunya akan muncul lagi kapan saja dengan
pedang kayunya. Waktu terus berlalu dan akhirnya sang pemuda telah
mengembangkan keterampilan menangkap dan menghentikan sang guru, dari mana pun
arah kedatangannya.
Sang pemuda menyadari, ia telah
mempelajari sesuatu yang berharga dan ingin belajar lebih jauh. Maka suatu
pagi, ketika ia perhatikan gurunya sedang sibuk memasak sayuran, ia memungut
sebuah tongkat bear dan melakukan apa yang biasa dilakukan sang guru kepadanya.
Ia tiba-tiba muncul di depan untuk menyerang sang guru. Dalam sekejap, sang
guru meraih tutup periuk, memutar badan dan menggunakan tutup itu untuk
menangkis ujung tongkat.
Sang pemuda pun membungkuk hormat
pada gurunya dan bertanya, “Guru, sudikah kiranya Guru memberitahu
kebijaksanaan dari pelajaran-pelajaranku?” Sang guru menjawab, “Kesadaran.” Apa
maksudnya itu?” Sang guru kembali menjawab, “Ketika aku memintamu melakukan
pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, itu sebenarnya membantumu agar sadar bahwa
ada sesuatu yang perlu kauubah. Ketika tiba-tiba menyerangmu dengan pedang kayu,
kau mengembangkan kekuatan antisipasi hingga ke titik dari mana pun aku datang
kau akan selalu bisa mengetahuinya dan menghentikanku. Kau jadi sadar
sepenuhnya akan situasi di sekelilingmu hingga pada titik menumbuhkan
keberanian, dan keberanianmu, ya, kau mengembangkan sendiri. Kau memutuskan
untuk menyerangku dan kau bisa perhatikan betapa cepat pula aku menghentikanmu.
Demikianlah anak muda, kau telah belajar fondasi para guru besar – kekuatan kesadaran.
Komentar
Posting Komentar